ini cuma mindah cerpenku dari blogku yang laen,,,
han2cute | October 31, 2007 | 12:44 pmTEMAN=PECUNDANG?!?
Dengan lesu dan letih yang menyerang, aku membanting tas di atas lantai. Lalu menghempaskan badan di atas kasur di kamar. “Hhh…hari yang sangat panas,”keluhku. Sambil memandangi langit-langit rumah, aku berusaha membayangkan hal-hal yang lucu. Tapi, entah mengapa, ada satu kisah yang selalu mengusik pikiranku sampai sekarang….Kisah di mana aku masih anak ingusan, kelas 5 SD.
Saat itu aku termasuk anak yang lincah dan banyak teman. Saat istirahat, aku senang sekali bermain, jajan, bercanda dan melakukan hal-hal yang selayaknya dilakukan anak-anak seumurku. Eits! Tapi jangan salah ya, walaupun senang bermain, aku tak lupa dengan yang namanya belajar. Belajar adalah no.1 bagiku. Mustahil memang, tapi begitulah kenyataannya. Bukannya menyombong, tapi ranking 1 selalu kuraih dari kelas 1. Mungkin tanpa aku sadari, rasa iri atau kecemburuan telah merasuki salah seorang teman dekatku. Ia sebenarnya anak pindahan sejak kelas 2, namanya Panji (samaran). Pintar, cerdas, tapi agak pendiam. Jujur saja, aku menyukainy. Karena, memang Panji adalah anak baik yang cukup disukai teman-temannya. Cinta monyet memang….
Kisah ini berawal saat liburan kenaikan usai, dan aku memasuki cawu pertama. Tepat hari pertama aku yang sangat bersemangat menyambut kelas baru itu tidak sadar akan kisah sedih yang bakal menimpa diriku. Entah dari mana asalnya, aku yang baru saja menginjakkan kaki memasuki ruang kelas 5 itu, langsung tidak diacuhkan teman-teman sekelas. Saat itu, aku belum sadar apa yang terjadi, sampai saat pemilihan pengurus kelas tiba. Saat Wali kelas mencalonkan aku, semua teman serempak mencemooh dan menghinaku. Deg! Jantungku saat itu serasa berhenti berdetak dengan perubahan sikap teman-teman. Aku bingung melihat teman-teman. Bahkan, teman akrabku pun menjauhiku. Dan akhirnya, Panji lah yang terpilih menjadi ketua kelas. Sorak sorai yang menakutkan terus bergaung di telingaku.
Keesokan pagi di kelas, aku terpaksa duduk bersama anak yang datang ke sekolah terlambat. Anak itu pun merasa tidak ikhlas kalau harus duduk di sebelahku. Rasanya menyakitkan kalau kalian dianggap “sesuatu yang menjijikkan bukan?” dan aku merasakan hal itu. Menganggapku “sesuatu yang menjijikkan” adalah suatu kesenangan tersendiri bagi mereka. Bahkan, aku tidak berani unjuk gigi seperti biasanya, saat ada guru yang menanyakan sesuatu dalam pelajaran. Aku hanya bisa mencatat, dan mendengarkan saja…seperti robot yang bisu,tidak bisa tertawa, tetapi akan bergerak hanya saat menulis. Karena, daripada disinisi teman-teman, lebih memilih diam seribu bahasa. Itu jalan terbaik menurut anak 10 tahun sepertiku saat mengahadapi masalah.
Hari-hari yang harus dijalani seorang anak SD kelas 5 seharusnya menjalani kehidupan yang damai dan penuh canda tawa. Mungkin hanya ada di sinetron, telenovela atau apalah namanya, tapi kalian mungkin tidak akan percaya kalau tahu bahwa seorang anak kelas 5 SD bisa melakukannya. Aku seperti tidak percaya atas apa yang telah terjadi pada diriku saat itu. Saat masuk kelas, aku terkejut melihat dengan mata kepalaku sendiri. Meja dan kursiku penuh coretan kapur yang berisi ejekan kepadaku, bahkan kepada orang tuaku. Ingin menangis tapi aku berusaha menahannya. Aku hanya bisa menghapus coretan itu dengan menerima pandangan-pandangan yang melecehkan dari teman-teman. Lalu saat pelajaran, ada saja yang melempariku dengan gumpalan kertas. Tidak sakit di fisik, tapi hatiku sakit….
Sesudah pulang sekolah, kadang-kadang tasku diisi batu atau daun-daun. Atau malah buku tulisku dibuang ke tempat sampah. Dan saat sedang berjalan pulang sekolah, aku dihujani ejekan dari teman sekolah yang searah dengan rumahku. Kadang-kadang kuncir rambutku ditarik atau ditertawakan walaupun sebenarnya tidak ada yang lucu. Aku yang mengalami semua penderitaan itu, entah mengapa tidak menangis sedikitpun di sekolah bahkan meskipun sudah berada di rumah. Selayaknya anak kecil, mengadu pastilah jalan yang ditempuh kalau disakiti temannya. Tapi apa yang terjadi? Mengadukah aku? Sayang sekali, jawabannya adalah tidak! Tidak! Tak satu kata terucap untuk mengadu atas penderitaan yang kualami. Kepada orang tuaku, guruku, kepada siapa saja aku tidak bercerita. Aku menutup mulut rapat-rapat, menguncinya kuat-kuat agar tidak ada yang tahu masalahnya.
Lama kelamaan, aku tahu siapa pemimpin gerakan penyiksaan itu. Panji. Panji yang baik kepadaku. Yah, Panji yang itu. Panji yang kusukai. Bahkan Panji menghasut teman-teman bahwa orang tuaku menyogok guru sehingga selalu mendapat peringkat 1. Yang paling keterlaluan adalah, Panji mengatakan bahwa Ayahku seorang PKI. Apakah semua hinaan itu tidak membuatku shock berat? Mungkin ada beberapa teman yang netral, tidak memihak siapa saja, tapi orang-orang itu bisa dihitung dengan jari. Hanya sekelumit teman yang netral. Tapi sama saja, mereka tidak berani mendekatiku sedikitpun. Karena takut dibenci taman sekelas. Mereka hanya bisa diam saja menyaksikan penderitaan demi penderitaan yang terjadi di depan mata. Aku bisa maklum, bisa mengerti, rasa ketakutan dijauhi teman….Jadi, tak ada yang bisa menggandeng tanganku, menemaniku barang sedetik….
Hal seperti ini terus berlanjut, tiada henti, tiada bosan, selalu ada penyiksaan baru yang menyakitkan. Bahkan adikku yang satu sekolah denganku, ikut terkena penyiksaan. Adikku diejek, dicemooh, dihina, sampai menangis. Aku selalu memperingatkan adikku agar tidak menceritakan kepada siapa saja. Dan Aku berjanji akan melindungi adikku dengan cara apapun. Karena adikku tidak bersalah. Aku berani melawan hanya saat adikku disakiti. Aku tidak ingin adikku disakiti sedikitpun, bahkan kalau ada yang berani menyentuhnya dengan ujung jari, aku akan mengamuk. “Biar saja aku disakiti, tapi jangan adikku,” sumpahku dalam hati.
Namun, walaupun dengan cobaan yang seperti itu, prestasi belajarku tidak surut. Dengan meraih juara 1 di kelas, aku bisa membuktikan bahwa semua siksaan itu tidak mempengaruhi otakku. Selama 1 tahun, aku menjalani kehidupan yang bagai neraka itu. Selama 1 tahun itu pula, aku belajar menjadi anak yang tegar, kuat mental dan tabah menghadapi cobaan.
Sampai saat duduk di kelas 6, semua siksaan tetap berjalan seperti rutinitas yang wajib dilakukan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Disebabkan adanya kejadian saat pelajaran menggambar. Saat membuka buku gambar, terlihat sebuah jejak sepatu yang “menghiasi” kertas gambarku. Beruntungnya diriku, wali kelasku mengetahui kejadian ini. Karena, semua kejadian yang menimpaku selama di kelas 5 disembunyikan, dan tidak ada guru yang tahu secuilpun. Wali kelasku saat itu sangat perhatian dan sayang kepadaku. Seperti Ibuku yang kedua. Akhirnya aku tahu siapa yang tega mengotori kertas gambarku. Tak disangka, yang melakukannya adalah temanku yang termasuk grup netral. Ternyata, semakin banyak saja yang terpengaruh omongan tak bertanggung jawab dari Panji. Aku sudah pasrah.
Entah darimana Wali kelasku tahu bahwa anak didiknya terpecah menjadi 2 grup, aku dan Panji dipanggil Wali kelas di ruang kepala sekolah. Semua masalah diselesaikan di sana, saat itu juga. Aku dan Panji berjabat tangan, tapi dalam hati, aku belum bisa memaafkan sepenuhnya. Jabat tangan hanya sebagai formalitas, pikirku. Begitu keluar dari ruangan, entah kenapa, semua teman sekelas langsung berubah “manis”. Lebih tepatnya sok manis. Mereka minta maaf, bahkan ada yang langsung “akrab” danganku tanpa merasa bersalah. Semua teman sekelas jadi bersikap hormat dan ramah kepadaku. Sahabat-sahabatku yang dulu menyakitiku ikut memakai topeng dengan senyuman palsu mereka. Aku merasa seperti boneka yang dipermainkan dunia. “Manusia bodohkah aku?” aku membisikkan kalimat itu dalam hati. Sikap mereka malah semakin menyakitkan hati….
Sehari setelah kejadian itu, teman sekelas langsung menjauhi Panji. Padahal, aku tidak pernah menghasut teman sekelas sekalipun. Tetapi, Panji sudah terlanjur salah paham. Ia mengira aku balas dendam. Tapi sebenarnya aku tidak melakukan apapun. Aku hanya bisa melihat Panji dikucilkan teman-teman sampai kelulusan.
Oh Tuhan…bahkan sampai sekarang, aku masih ingat sosok Panji yang baik itu. Aku tidak sanggup membencinya sedikitpun. Aku ingin sekali bertemu dengannya, untuk mengatakan bahwa aku sayang padanya, aku tidak benci padanya. Namun itu adalah cerita lama. Aku harap kalau Panji menyadari kisah ini, aku ingin Panji tahu, kisah ini aku persembahkan untuk dirinya. Aku ingin Panji tahu, sku selalu ingat kepadamu. Selamanya….
Aku sekarang ini sudah duduk di bangku SMA kelas 2. Aku tidak bermaksud negative thinking pada teman-teman yang sekarang. Tapi mau tidak mau, semua yang terjadi di masa kecilku adalah trauma yang tidak akan bisa hilang selamanya. Trauma batin yang sangat berat. Setiap saat, aku harus mencoba meyakinkan diri sendiri, bahwa teman tidak selamanya seperti itu. Sampai sekarangaku tidak berani membuka hati untuk mencintai orang lain lebih jauh. Aku takut akan bayang-bayang rasa sakit hati itu. Tapi, aku berusaha membuka hati untuk teman-temanku yang sekarang. Mereka terlihat baik, menyenangkan dan ramah. Apakah memang seperti itu? Seperti apa hati mereka sebenarnya? Apakah mereka akan menyakitiku? Apakah mereka membenciku dari belakang? Apakah mereka hanya menganggapku angin lalu? Apakah mereka setia? Apakah ada persahabatan? Apakah mereka mencintaiku selamanya? Apakah teman hanya seorang pecundang? Hanya Allah dan mereka yang tahu….






